Kebal Antibiotik, Waspada Bakteri Pseudomonas Di Sungai Citarum

KESEHATAN 14-05-2018

TEMPO.CO, Jakarta - Bakteri Pseudomonas aeruginosa diketahui menghuni wilayah sepanjang bantaran Sungai Citarum. Bakteri yang sama juga diidentifikasi berada di bantaran Sungai Ciliwung dan Cisadane.

Bakteri Pseudomonas aeruginosa adalah jenis bakteri yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

"Menurut keterangan tim Medicuss Group, bakteri Pseudomonas aeruginosa itu resisten terhadap antibiotik. Jadi mereka yang terpapar dikhawatirkan bisa mengandung penyakit yang lebih parah," kata Doni Monardo, Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional, dalam acara Afternoon Tea di kantor Kementerian Koordinator Kemaritiman, Jakarta, Jumat, 11 Mei 2018.

Doni mengatakan, berdasarkan diskusi dengan dokter Joseph William dari Medicuss Grup, kehadiran bakteri tersebut sangat mungkin disebabkan limbah medis yang dibuang secara tidak bertanggung jawab ke bantaran sungai.

Petugas menunjukkan air bersih (kiri) hasil pengolahan air kotor (kanan) Sungai Citarum di jembatan perbatasan Dayeuhkolot dan Baleendah, Kabupaten Bandung, 10 Maret 2018. Satu unit kendaraan water treatment baru milik Badan SAR Nasional (Basarnas) dioperasikan untuk memasok kebutuhan air bersih bagi warga Dayeuhkolot dan Baleendah. TEMPO/Prima Mulia

Saat masih menjabat Panglima Komando Daerah Militer III/Siliwangi, Doni dan tim Kodam berinisiatif membersihkan bantaran Sungai Citarum. Doni mengatakan timnya memang menemukan limbah medis yang dibuang.

"Kami menemukan limbah medis di lapangan, (di antaranya) yang ada tulisan kantong darah HIV/Aids. Kami juga menemukan potongan-potongan tubuh manusia bekas operasi. Di samping itu, ada juga alat-alat bekas operasi dan sebagainya," ujarnya.

Doni menambahkan, jika saat ini dilakukan penelitian kembali dan tidak ditemukan bakteri Pseudomonas aeruginosa, bakteri tersebut mungkin sudah larut saat musim hujan. Namun, kata dia, kemungkinan tersebut baru berdasarkan asumsi.

Disebutkan juga bahwa jumlah mata air di daerah aliran Sungai Citarum menyusut. Pada 2009 ditemukan 300 mata air. Sedangkan ketika diteliti ulang oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Air pada 2015, jumlahnya menyusut menjadi 144.

"Kemudian masyarakat yang tinggal di sepanjang Sungai Citarum, tahun 80 atau 90-an, yang dulunya bisa menggunakan air sumur sebagai air minum, sekarang tidak bisa. Mereka kini harus membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari," ucap Doni.